Semua berawal dari warnet.
Semua berawal dari sebuah warnet kecil di tahun 2012. Waktu itu, akses internet masih mahal dan smartphone barang mewah. Satu-satunya cara belajar dari Google adalah datang ke warnet. Karena tidak sanggup bayar sewa komputer tiap hari, saya melamar jadi operator warnet dengan gaji Rp500 ribu sebulan. Alasannya sederhana: biar bisa internetan gratis, sekaligus belajar gratis.
Satu artikel yang mengubah arah.
Di sela jaga warnet, satu artikel mengubah arah hidup saya — rangkaian judul seperti “Online Marketing Will Change Everything” dan “Businesses That Don’t Go Online Will Be Left Behind.” Muncul pertanyaan sederhana di kepala saya: kok bisa orang percaya beli produk dari orang yang tidak pernah mereka temui?
Belajar dari kegagalan.
Dari rasa penasaran itu, saya nekat coba-coba. Blogging, Google AdSense, paid to review, affiliate marketing produk luar negeri, sampai jadi dropshipper — semua saya jalani sambil gagal berkali-kali. Tidak ada yang instan. Tapi dari proses itu, ada satu pelajaran yang bertahan sampai sekarang:
Kalau kamu tulus membantu orang lebih dulu, hasil akan menyusul dengan sendirinya.
Membangun komunitas, bukan sekadar audiens.
Tahun 2014, bersama Kang Dewa Eka Prayoga, saya ikut membangun komunitas “Jago Jualan” — kini beranggotakan ratusan ribu orang. Newsletter yang saya kelola tumbuh jadi 30.000+ subscriber dengan open rate 40%+, dibangun bukan dari strategi rumit, tapi dari konsistensi menjawab pertanyaan sekecil apa pun dan tidak pernah memaksa orang membeli.
Dari komunitas ke kampanye yang menang.
Dari sini, kepercayaan itu membawa saya memegang mandat yang lebih besar: merancang dan mengeksekusi kampanye digital untuk pemilihan ILUNI FKM UI, ILUNI UI, dan IKASTARA — dan ketiganya menang. Pengalaman ini jadi bukti bahwa skill yang sama untuk membangun komunitas dan kepercayaan online, bisa dipakai untuk memenangkan kontestasi yang butuh strategi digital serius.
Membangun dari nol.
Saya juga co-founder Superlatif.id, startup edutech yang dibangun dari nol, dan saat ini dipercaya mengelola aset digital dan brand di Priority Group.
Fokus sekarang.
Sekarang, fokus saya ada di membangun Heyzul.id sebagai ekosistem edukasi untuk solopreneur dan digital marketer Indonesia, sekaligus menjalankan Superlatif, Fondasi.id, dan berbagai proyek yang menggabungkan digital marketing, AI productivity, dan pengembangan produk digital.
Misi ke depan.
Ke depan, misi saya sederhana: membantu lebih banyak solopreneur dan bisnis Indonesia membangun sistem kerja dan bisnis digital yang lebih cerdas — dengan bantuan AI, tanpa kehilangan sisi manusiawi di prosesnya.